• Welcome Screen - Selamat Datang

Tentang Situs

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Selamat datang di blog sederhana tempat mencurahkan tulisan-tulisan saya. Terima kasih telah bersedia singgah dan bersilaturahmi di sebuah noktah kecil dalam luasnya alam maya. Semoga perjumpaan ini bisa berkesan dan berlanjut di kesempatan yang lainnya.

Silahkan bagi yang ingin mendownload (mengunduh) ataupun mengcopy tulisan-tulisan yang saya masukkan, dan jangan lupa untuk selalu mencantumkan link situs blog ini ( http://www.ammartblog.co.cc/ ) dalam setiap tulisan yang anda ambil disini.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Posting Blog

Imam Al Ghazali

4 komentar
Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.

Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau

Patung Imam Al Ghazali
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi suatu daerah di kota Khurasan, Persia (sekarang Iran), tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).

Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.

Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/326 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193 dan 194).

Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu

Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”

Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”

Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193-194).

Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.

Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).

Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).

Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).

Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.

Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya


Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa 6/54).

Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa 6/54).

Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.

Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala 19/328).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa 4/164).

Polemik Kejiwaan Imam Ghazali

Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.

Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.

Al Ghazali - The Alchemist of Happiness
Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami’ Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).

Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, “An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).

Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur’an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.

Masa Akhir Kehidupannya

Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”

Kubur Imam al-Ghazali yang sebenar telah dijumpaioleh para arkeologi Khurasan pada tahun 1995 di Tus (Thusi).
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201).

Karya-Karyanya *

*Nama karya beliau ini diambil secara ringkas dari kitab Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah, karya Dr. Abdurrahman bin Shaleh Ali Mahmud 2/623-625, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/203-204

Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:

Pertama, dalam masalah ushuluddin dan aqidah:

Buku Mutiara Ihya' Ulumuddin

1. Arba’in Fi Ushuliddin. Merupakan juz kedua dari kitab beliau Jawahirul Qur’an.
2. Qawa’idul Aqa’id, yang beliau satukan dengan Ihya’ Ulumuddin pada jilid pertama.
3. Al Iqtishad Fil I’tiqad.
4. Tahafut Al Falasifah. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.
5. Faishal At Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.


Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat, manthiq dan tasawuf, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya:

(1) Al Mustashfa Min Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, “Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fiqih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya.” Tetapi kemudian beliau berkata, “Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar……” (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 17 dan 18).

Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah manthiqnya, “Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya.” (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 19).

Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah. beliau berkata, “Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka berarti dia itu manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali tidak mengenal ilmu manthiq!” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.

(2) Mahakun Nadzar.

(3) Mi’yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.

(4) Ma’ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.

(5) Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.

(6) Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. Telah dicetak.

(7) Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.

(8) Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, “Adapun kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329).

Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, “Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.

(9) Al Ajwibah Al Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.

(10) Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi.

(11) Qanun At Ta’wil.

(12) Fadhaih Al Bathiniyah dan Al Qisthas Al Mustaqim. Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.

(13) Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al Mu’tashim Billah Al Baghdadi.

(14) Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.

(15) Ar Risalah Alladuniyah.

(16) Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya:

Abu Bakar Al Thurthusi berkata, “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya’ dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.” (Dinukil Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/334).

Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, “Adapun penjelasan Anda tentang Abu Hamid, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al Ihya’ beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadits-hadits palsu.” Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, “Adapun di dalam kitab Ihya’ terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/339-340).

Imam Subuki dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah (Lihat 6/287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihya’ dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihya’ dalam kitabnya, Al Mughni An Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al Ihya Minal Akhbar. Kitab ini dicetak bersama kitab Ihya Ulumuddin. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin.

(17) Al Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya.

(18) Al Wasith.

(19) Al Basith.

(20) Al Wajiz.

(21) Al Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi’iyah yang beliau tulis. Imam As Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/224-227.

Aqidah dan Madzhab Beliau

Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al Wasith, Al Basith dan Al Wajiz. Bahkan kitab beliau Al Wajiz termasuk buku induk dalam mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi’i.”

Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.

Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.

Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 110).

Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al Maqshad Al Asna, Jawahirul Qur’an dan Al Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:

Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.

Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah 2/628).

Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al Ghazali, bahwa tasawuf Al Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al Juhani 2/928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 111).

Tetapi perlu diketahui, bahwa pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah meninggalkan filsafat dan ilmu kalam, dengan menekuni Shahih Bukhari dan Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penulis Jawahirul Qur’an (Al Ghazali, pen) karena banyak meneliti perkataan para filosof dan merujuk kepada mereka, sehingga banyak mencampur pendapatnya dengan perkataan mereka. Pun beliau menolak banyak hal yang bersesuaian dengan mereka. Beliau memastikan, bahwa perkataan filosof tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Demikian juga halnya perkataan ahli kalam. Pada akhirnya beliau menyibukkan diri meneliti Shahih Bukhari dan Muslim hingga wafatnya dalam keadaan demikian. Wallahu a’lam.”

***
Sumber: Majalah As Sunnah
Penyusun: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.

Komentar Melalui Facebook

Syaikh Sayyid Sabiq

1 komentar
”Sayyid Sabiq -rahimallahu- tidak pernah bosan untuk mengingatkan kaum Muslimin akan posisi mereka di tengah umat yang lain dan bahwa mereka wajib memegang kendali kehidupan agar bisa menggapai kebahagiaan dan membuat orang lain berbahagia”.

SAYYID SABIQ
(Ulama Bersahaja, Khadim as-Sunnah)
 Syaikh Sayyid Sabiq dilahirkan tahun 1915 H di Mesir dan meninggal dunia tahun 2000 M. Ia merupakan salah seorang ulama al-Azhar yang menyelesaikan kuliahnya di fakultas syari’ah. Kesibukannya dengan dunia fiqih melebihi apa yang pernah diperbuat para ulama al-Azhar yang lainnya. Ia mulai menekuni dunia tulis-menulis melalui beberapa majalah yang eksis waktu itu, seperti majalah mingguan ‘al-Ikhwan al-Muslimun’. Di majalah ini, ia menulis artikel ringkas mengenai ‘Fiqih Thaharah.’ Dalam penyajiannya beliau berpedoman pada buku-buku fiqih hadits yang menitikberatkan pada masalah hukum seperti kitab Subulussalam karya ash-Shan’ani, Syarah Bulughul Maram karya Ibn Hajar, Nailul Awthar karya asy-Syaukani dan lainnya.

Syaikh Sayyid mengambil metode yang membuang jauh-jauh fanatisme madzhab tetapi tidak menjelek-jelekkannya. Ia berpegang kepada dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan Ijma’, mempermudah gaya bahasa tulisannya untuk pembaca, menghindari istilah-istilah yang runyam, tidak memperlebar dalam mengemukakan ta'lil (alasan-alasan hukum), lebih cenderung untuk memudahkan dan mempraktiskannya demi kepentingan umat agar mereka cinta agama dan menerimanya. Beliau juga antusias untuk menjelaskan hikmah dari pembebanan syari’at (taklif) dengan meneladani al-Qur’an dalam memberikan alasan hukum.

Juz pertama dari kitab beliau yang terkenal “Fiqih Sunnah” diterbitkan pada tahun 40-an di abad 20. Ia merupakan sebuah risalah dalam ukuran kecil dan hanya memuat fiqih thaharah. Pada mukaddimahnya diberi sambutan oleh Syaikh Imam Hasan al-Banna yang memuji manhaj (metode) Sayyid Sabiq dalam penulisan, cara penyajian yang bagus dan upayanya agar orang mencintai bukunya.

Setelah itu, Sayyid Sabiq terus menulis dan dalam waktu tertentu mengeluarkan juz yang sama ukurannya dengan yang pertama sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya hingga akhirnya berhasil diterbitkan 14 juz. Kemudian dijilid menjadi 3 juz besar. Belaiu terus mengarang bukunya itu hingga mencapai selama 20 tahun seperti yang dituturkan salah seorang muridnya, Syaikh Yusuf al-Qardhawi.

Banyak ulama yang memuji buku karangan beliau ini yang dinilai telah memenuhi hajat perpustakaan Islam akan fiqih sunnah yang dikaitkan dengan madzhab fiqih. Karena itu, mayoritas kalangan intelektual yang belum memiliki komitmen pada madzhab tertentu atau fanatik terhadapnya begitu antusias untuk membacanya. Jadilah bukunya tersebut sebagai sumber yang memudahkan mereka untuk merujuknya setiap mengalami kebuntuan dalam beberapa permasalahan fiqih.

Buku itu kini sudah tersebar di seluruh pelosok dunia Islam dan dicetak sebagian orang beberapa kali tanpa seizin pengarangnya. Tetapi, ada kalanya sebagian fanatisan madzhab mengkritik buku Fiqih Sunnah dan menilainya mengajak kepada ‘tidak bermadzhab’ yang pada akhirnya menjadi jembatan menuju ‘ketidak beragamaan.’

Sebagian ulama menilai Sayyid Sabiq bukanlah termasuk penyeru kepada ‘tidak bermadzhab’ sekali pun beliau sendiri tidak berkomitmen pada madzhab tertentu. Alasannya, karena beliau tidak pernah mencela madzhab-madzhab fiqih yang ada dan tidak mengingkari keberadaanya.

Sementara sebagian ulama yang lain, mengkritik buku tersebut dan menilai Syaikh Sayyid Sabiq sebagai orang yang terlalu bebas dan tidak memberikan fiqih perbandingan sebagaimana mestinya di dalam mendiskusikan dalil-dalil naqli dan aqli serta melakukan perbandingan ilmiah di antaranya, lalu memilih mana yang lebih rajih (kuat) berdasarkan ilmu. Apa yang dinilai para penentangnya tersebut tidak pada tempatnya. Sebenarnya buku yang dikarang Sayyid Sabiq itu harus dilihat dari sisi untuk siapa ia menulis buku itu. Beliau tidak menulisnya untuk kalangan para ulama tetapi untuk mayoritas kaum pelajar yang memerlukan buku yang mudah dan praktis, baik dari sisi format atau pun content (isi).

Di antara ulama yang mengkritik buku tersebut adalah seorang ulama hadits yang terkenal, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani yang kemudian menulis buku ‘Tamaamul Minnah Bitta’liq ‘ala Fiqhissunnah”. Kitab ini ibarat takhrij bagi hadits-hadits yang terdapat di dalam buku fiqih sunnah.
Tetapi, meskipun Syeikh Albani mengkritik, beliau juga merekomendasikan untuk membacanya, sebagaimana dikutip Syeikh Al bani dalam Muqadimah Kitab ‘Tamaamul Minnah Bitta’liq ‘ala Fiqhissunnah”.

Syaikh Sayyid Sabiq merupakan sosok yang selalu mengajak agar umat bersatu dan merapatkan barisan. Beliau mengingatkan agar tidak berpecah belah yang dapat menyebabkan umat menjadi lemah. Beliau juga mengajak agar membentengi para pemudi dan pemuda Islam dari upaya-upaya musuh Allah dengan membiasakan mereka beramal islami, memiliki kepekaan, memahami segala permasalahan kehidupan serta memahami al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal ini agar mereka terhindar dari perangkap musuh-musuh Islam.

Beliau juga pernah mengingatkan bahwa Israel adalah musuh bebuyutan umat ini yang selalu memusuhi kita secara berkesinambungan. Beliau pernah bertemu dengan salah seorang pengajar asal Palestina yang bercerita kepada beliau, “Suatu kali saya pernah melihat seorang Yahudi sangat serius duduk menghafal Kitabullah dan hadits-hadits Rasulullah. Lalu saya tanyakan kepadanya, ‘Kenapa kamu melakukan ini.?’ Ia menjawab, ‘Agar kami dapat membantah kalian dengan argumentasi. Kalian adalah orang-orang yang reaktif dan sangat sensitif, karena itu kami ingin mengendalikan lewat sensitifitas kalian itu. Jika kami berdebat dengan kalian, kami akan menggunakan ayat-ayat dan hadits Nabi kalian. Kami juga akan menyebutkan sebagian permisalan dalam bahasa Arab yang mendukung permasalahan kami sehingga kalian bertekuk lutut terhadap seruan kami dan mempercayai kebenarannya”.





 dapat dilihat  juga di: Ammar De'Hain Facebook Note

Komentar Melalui Facebook

Syaikh Hamud Bin Abdullah at-Tuwaijiri

1 komentar

Nama Dan Nasabnya

Beliau adalah Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits al-Faqih Hamud bin Abdullah bin Abdurrahman at-Tuwaijiri, dari Alu Jabbarah, pecahan dari kabilah ‘Anazah Arabiyah yang masyhur.


Kelahirannya

Beliau rahimallah dilahirkan pada tahun 1334 H di kota Majma’ah, ibukota Sudair, Saudi Arabia, dalam lingkungan keluarga yang dikenal dengan keilmuan dan keutamaan mereka.


Rihlah Ilmiah Dan Guru-Gurunya

Pada tahun 1342 H, beliau rahimallah mulai belajar dasar-dasar baca tulis dan al-Qur’an kepada syaikh Ahmad ash-Sha’igh. Sebelum usia 11 tahun, beliau telah hafal al-Qur’an.

Pada usia yang sangat dini beliau telah mempelajari ringkasan-ringkasan kitab-kitab ilmiah dalam bidang tauhid, hadits, fiqh, fara’idh dan nahwu.

Diantara kitab-kitab yang beliau pelajari di bawah bimbingan Syaikh Ahmad ash-Sha’igh adalah Ushuuluts Tsalaatsah oleh Syaikh al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab.

Ketika mulai beranjak dewasa, beliau menghadiri halaqah Syaikh al-Faqih Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Anqari, Qadhi Sudair. Beliau belajar kepada Syaikh al-Faqih Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Anqari berbagai macam disiplin ilmu seperti tauhid, tafsir, hadits, fiqh, fara’idh, nahwu, sirah, tarikh, adab dan yang lainnya selama 25 tahun.

Di antara kitab-kitab yang beliau pelajari di bawah bimbingan Syaikh al-Faqih Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Anqari adalah: Fathul Bari oleh ibnu Hajar, al-Mughni oleh ibnu Qudamah, Minhajus Sunnah, Dar-uTa’arudhil Aql wa Naql dan Fatawa Kubra; ketiganya karya Syaikhul Islam ibnu Taimiyah, Zadul Ma’ad oleh Ibnu Qayyim dan kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan para imam dakwah.

Beliau diberi ijazah sanad oleh Syaikh al-‘Anqari untuk kitab-kitab Shahih, Masanid dan Sunan, berikut kitab-kitab Syaikhul Islam ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan kitab-kitab fiqh Hanbali secara umum. Demikian juga seluruh riwayat Syaikh al-‘Anqari dari kitab-kitab atsbat.

Beliau juga belajar fiqh, fara’idh dan lughah (bahasa) kepada Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid ketika ia (syaikh Ibn Humaid) masih menjabat Qadhi Sudair.

Beliau berguru kepada Syaikh al-Allamah Muhammad bin Abdul Muhsin al-Khayyal, Qadhi Madinah, dalam bidang nahwu dan fara’idh.

Beliau juga belajar kepada Syaikh Sulaiman bin Hamdan, salah seorang qadhi Makkah, dan mendapat ijazah sanad dari Syaikh Sulaiman.


Jabatan Yang Pernah Dipegang

Pada tahun 1368 H beliau ditugaskan sebagai Qadhi Rahimah. Setengah tahun kemudian beliau dipindah ke Zulfi hingga tahun 1372 H. Kemudian beliau mengundurkan diri dari jabatan Qadhi.


Kehidupan Ilmiahnya

Beliau rahimallah memiliki kemauan yang sangat kuat dalam menuntut ilmu sehingga mencurahkan semua waktunya untuk itu. Beliau banyak menulis kitab-kitab yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Beliau tekankan penulisan beliau kepada masalah-masalah terlarang yang banyak dilakukan oleh manusia, atau syubhat-syubhat di masyarakat dan perkara baru yang diada-adakan. Beliau jelaskan dengan dalil-dalil kuat dan argumen-argumen yang gamblang sehingga bisa diterima dan memberi manfaat yang besar kepada setiap pembaca tulisan beliau.

Sejak terbit matahari hingga Isya’ beliau isi waktu beliau dengan pembahasan ilmu dan menulis. Kadang setelah Isya’ beliau lanjutkan apa yang beliau mulai pada awal harinya. Adapun malam harinya beliau isi dengan tahajjud baik waktu menetap maupun dalam perjalanan.


Kegigihan Beliau Dalam Membela Sunnah

Beliau begitu gigih dalam meluruskan penyimpangan-penyimpangan orang yang menyeleweng dari jalan Alloh. Beliau bantah penyelewengan tersebut dengan pena sebagai pembelaan terhadap Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan aqidah shahihah, aqidah ahli Sunnah wal Jama’ah, kadang-kadang beliau sebarkan bantahan-bantahan tersebut ke media cetak dalam dan luar negeri Saudi.

Sebagian diantara bantahan-bantahan beliau kepada pemikiran yang menyeleweng beliau paparkan kepada Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Hal itu menjadikan Syaikh Muhammad bin Ibrahim begitu menghargai perjuangan beliau membantah pemikiran-pemikiran yang menyeleweng sehingga murid Syaikh Muhammad bin Ibrahim menyebutkan bahwa suatu saat Syaikh Hamud membacakan kepada Syaikh Muhammad bin Ibrahim sebuah bantahan Syaikh Hamud kepada ahli bid’ah.

Ketika Syaikh Hamud selesai membacakannya dan beranjak pergi maka Syaikh Muhammad bin Ibrahim berkata, “ Syaikh Hamud adalah seorang mujahid, semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan.”

Kalimat yang agung dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim ini senada dengan apa yang telah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Orang yang membantah ahli bid’ah adalah seorang mujahid.” Sampai-sampai Yahya bin Yahya mengatakan, “Membela Sunnah lebih afdhal dibandingkan berjihad.” (Naqdhul Manthiq hal. 12 )


Murid-Muridnya

Di antara murid-murid beliau adalah ketujuh putranya:
1. Syaikh Abdullah
2. Syaikh Muhammad
3. Syaikh Abdul Aziz
4. Syaikh Abdul Karim
5. Syaikh Shalih
6. Syaikh Ibrahim, dan
7. Syaikh Khalid

Kemudian,
1. Syaikh Abdullah Ar-Rumi
2. Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Hamud
3. dst...

Beliau memberi ijazah sanad kepada beberapa ulama, di antaranya:
1. Syaikh Ismail al-Anshari
2. Syaikh Shalih bin Abdullah bin Humaid
3. Syaikh Abdul Aziz bin Ibrahim al-Qasim
4. Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali
5. Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh
6. Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman al-Firiwa’i
7. dll...


Tulisan-Tulisannya

Tulisan-tulisan beliau mencapai lebih dari 50 tulisan, yaitu:
Ittihaful Jama’ah bima Ja’afil Fitan wal malahim wa Asyrathis Sa’ah, Ihtijaj bil Atsar ‘ala man Ankara al-Mahdi al-Muntazhar, Itsbatu Uluwwillah wa Mubayatuhu li Kahlqihi, Tuhfatu Ikhwan bima Ja’a fil Muwalati wal Mu’aadati wal Hubbi wal Bughdhi wal Hajran, Qaul Muharrar fil Amr bil Ma’ruf wa Nahyi ‘anil Munkar, Raddu ‘ala man abaha ar-Riba al-Jari fi Ba’dhil Bunuk, Taghlizhu Malam ‘ala Mutasarri’in fil Futya wa Taghyiril Ahkam, Idhah wa Tabyin lima Waqa’a fihil Aktsarun min Musyabahatil Musyrikin, Qashashul Uqubat wal ‘Ibar wal Mawa’izh, Idhahul Mahajjah fir Raddi ‘ala Shahibi Thanjah, Raddul Qawi ‘ala Rifa’I wal Majhul wal Ibnu Alawi wa Bayanu akhta’ihim fil Maulid Nabawi, Intishar ‘ala man Azraal Muhajirin wal Anshar, Sirajul Wahhaj ‘ala Abathil Ahmad Syalaby ‘anil Isra’ wal Mi’raj, Inkaru Takbir Jama’I wa Gahirihi, ittihafun Nubala’ bir Riwayah ‘anil A’lam Fudhala,’ Ijabah Jaliyyah ‘an As’ilah Kuwaitiyyah, I’lanun Nakir ‘alal Maftunin bit Tashwir, Iqamatul Burhan fir Raddi ‘ala man Ankara Khurujal Mahdi wa Dajjal wa Nuzulal Masih fi akhiri Zaman, Tahdzirul Ummah Islamiyah minal Muhdatsat Allati Da’at ilaiha Nadwatul Ahillah Kuwaitiyyah, Tahrimur Shuwar wa Raddu ‘ala man Abahahu, Tanbihul Ikhwan ‘alal Akhtha’ fi Khalqil Qur’an, Dala’il Wadhihat ‘ala Tahrimil Muskirat wal Muftirat, Dzail Shawa’iq li mahwil Abathil wal Makhariq, Raddul Jamil ‘ala Akhta’I Ibni Aqil, Raddu ‘alal Katibil Maftun, Raddu ‘ala man Ajaza Tahdzibal Lihyah, Raddul Qawim ‘alal Mujrimil Atsim, ar-Ru’ya, Sharimul Battar lil Ijhaz ‘ala man Khalafal Kitaba was Sunnata wal Aatsar, Sharimul Masyhur ala Ahli Tabarruji was Sufur, Shawa’iq Syadidah ‘ala Atba’il Haiahil Jadidah, Aqidatu Ahlil Iman fi Kahlqi Adam ‘ala Shuratir Rahman, Fathul Ma’bud fi Raddi ‘ala Ibni Mahmud, Fashlul Khithab fir Raddi ‘ala Abi Turab, Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’ati Tabligh, Tanbihat ‘ala Risalatil Albani fish Shalat, Iqamatu Dalil ‘alal Man’I Minal Anasyid Mulahhanah wa Tamtsil, Syuhubul Marmiyyah li mahqil Ma’azif wal Mazamiri wa sairil Malahi bil Adillah Naqliyyah, Dala’ilul Atsar ‘ala Tahrimi Tamtsil bisy Syi’r, Tabri’atul Khalifah al-‘Adil wa Raddu ‘alal Mujadil bil Bathil, dan Risalah Badi’ah fir Raddi ‘ala Ahlil Majallatil Khali’ah.

Di samping Tulisan-tulisan diatas, beliau juga menulis Ta’liq (komentar/catatan kaki) yang banyak atas Musnad Ahmad yang dicetak dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, demikian juga Ta’liq atas Fathul Bari, dan beberapa komentar atas al-Mustadrak karya al-Hakim.

Banyak dari tulisan-tulisan beliau yang diberi pengantar oleh para ulama besar seperti Syaikh Muhammad bin ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Syaikh Abdur Razzaq Afifi.

Hubungan Beliau Dengan Syaikh al-Albani

Beliau memiliki beberapa bantahan terhadap tulisan-tulisan Syaikh al-Albani dan terjadi beberapa perbedaan pendapat antara beliau dengan Syaikh al-Albani. Kendatipun demikian, tetap terjalin ukhuwwah imaniyyah antara beliau dengan Syaikh al-Albani sebagaimana dalam hubungan-hubungan yang baik antara keduanya, diantaranya:
1. Syaikh Hamud di dalam bantahannya kepada Syaikh al-Albani tetap berusaha menjaga kedudukan Syaikh al-Albani. Suatu misal ketika beliau sudah hampir mencetak bantahan beliau, tiba-tiba ada seorang yang simpati kepada Syaikh al-Albani datang kepada beliau memprotes terhadap beberapa kalimat dalam bantahan tersebut, maka seketika itu juga beliau menghapus kalimat-kalimat tersebut.
2. Ketika Syaikh al-albani mengunjungi tempat beliau di Riyadh pada tahun 1410 H, beliau begitu bersungguh-sungguh di dalam menjamu dan menghormati Syaikh al-Albani.
3. Di dalam bantahan beliau kepada Syaikh al-Albani, beliau banyak menyertakan pujian beliau kepada Syaikh al-Albani dalam kegigihannya membela Sunnah dan melawan bid’ah seperti pernyataan beliau, “Syaikh al-Albani sekarang adalah lambang dari Sunnah. Mencela beliau akan memudahkan cela pada Sunnah.” Pujian ini jelas hanya berlaku bagi para imam Ahli Sunnah, bukan kepada para gembong ahli bid’ah sebagaimana yang dikehendaki oleh para pencetus manhaj muwazanah! Demikianlah dua imam dakwah salafiyah ini mencontohkan salah satu gambaran yang hidup dari manhaj salaf dalam menjelaskan kesalahan diantara para ulama ahli Sunnah.


Sifat Dan Akhlaknya

Orang-orang yang mengenal beliau menyebutnya sebagai orang yang taqwa, shalih dan banyak beribadah. Beliau banyak bertahajjud, banyak tilawah Kitabullah, selalu berpaling dari hal-hal yang tidak memberi faedah dan manfaat.

Beliau tidak dijumpai kecuali dalam keadaan beribadah atau membahas ilmu. Beliau sangat jauh dari mencari ketenaran dan pengikut. Beliau adalah seorang yang berpenampilan wibawa, tenang, tawadhu’ dan berakhlak baik.

Beliau tidak suka menggantungkan diri dalam segala sesuatu kepada orang lain, meskipun orang tersebut adalah kerabat yang paling dekat. Putra-putra beliau mengatakan, “Syaikh Hamud tidak pernah meminta bantuan apa pun kepada seorang pun, walaupun di saat pisik beliau sudah lemah, beliau menyiapkan teh dan kopi seorang diri, meskipun putra-putranya begitu sangat melarangnya untuk melakukan hal itu demi kesehatannya.” Ketika bepergian, beliau yang melayani kebutuhan rekan-rekannya, meskipun usia beliau sudah lanjut dan meskipun rekan-rekan perjalanan beliau sangat menghormati beliau. Beliau siapkan makanan untuk mereka dan tetap beliau shalat malam sebagaimana biasanya, kemudian berbaring sejenak hingga waktu shubuh, kemudian beliau mempersiapkan air wudhu bagi rekan-rekan seperjalanannya.

Beliau menutupi kebutuhan kesehariannya dengan sebagian usaha dagang beliau yang diwakilkan kepada orang lain. Beliau dikenal zuhud terhadap dunia. Sebelum wafat, beliau serahkan semua kekayaan beliau -yang tidak begitu banyak- kepada putra tertuanya untuk dishadaqahkan semuanya.

Ketika wafat beliau tidak meninggalkan apa pun kecuali rumah tempat beliau tinggal bersama putra-putranya.


Wafatnya

Syaikh Hamud bin Abdullah at-Tuwaijiri wafat di Riyadh tanggal 5 Jumada Tsaniyah tahun 1413 H dan dimakamkan di pekuburan Nasim, Riyadh. Semoga Alloh meridhainya dan menempatkannya dalam keluasan jannah-Nya.





dapat dilihat  juga di: Ammar De'Hain Facebook Note

Komentar Melalui Facebook